28 Oktober 2018 Tapak Tilas Sewu Tahun demi Prathana – Pengamalan Bodhicitta 千年尋根 請佛住世:行菩提

By November 5, 2018News

文在印尼文下

【Liputan TBS】

Pada siang hari tanggal 28 Oktober 2018, Dialog Nilai Sejarah hari kedua, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ‘Tapak Tilas Sewu Tahun demi Prathana – Pengamalan Bodhicitta’ diselenggarakan di Convention Center The Alana Hotel Yogyakarta. Acarya Lian-fei (蓮飛上師) memandu pelantunan Mantra Catur-sarana membuka rangkaian kegiatan di hari terakhir.

Berikutnya, mempersilakan para Acarya True Buddha Foundation, antara lain : Acarya Gao Chengzu (高程祖上師), Acarya Lian-yue (蓮悅上師), Acarya Lian-he (蓮訶上師), Acarya Lian-seng (蓮僧上師), Acarya Lian-tai (蓮太上師), dan Acarya Lian-dong (蓮東上師) untuk mengabhiseka arca-arca berusia ribuan tahun yang dipamerkan di lokasi acara, arca-arca tersebut merupakan peninggalan bersejarah yang ditemukan di Jawa Tengah, dan berasal dari abad ke-7.

Pada setiap kegiatan, tak lupa semua bersama memohon pancaran adhisthana dari Mulacarya dan Buddha Bodhisattva, supaya rangkaian kegiatan dan upacara homa di hari itu dapat berjalan dengan manggala, selain itu, juga melimpahkan jasa bagi para korban bencana di Lombok dan Sulawesi Tengah supaya semua memperoleh adhisthana cahaya Buddha, terbebas dari penderitaan, terlahir di alam suci, dan bagi mereka yang hidup dapat memperoleh kesehatan, serta pembangunan kembali dapat berjalan dengan lancar.

Arkeolog yang menjadi pembicara pada Dialog Nilai Sejarah hari itu ada tiga orang, terlebih dahulu adalah Bapak Hari Untoro Dradjat selaku tenaga ahli Kementerian Pariwisata Badan Otorita Borobudur yang membahas mengenai : Tapak Tilas Sewu Tahun Y.A. Atisa. Pembicara kedua adalah Ibu Niken Wirasanti yang merupakan dosen Universitas Gadjah Mada, yang membahas tiga serangkai candi, yaitu : Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur, beserta keistimewaan tata letaknya. Pembicara ketiga adalah arkeolog kehormatan dari Universitas Indonesia : Prof. Dr. Noerhadi Magetsari, selama dua hari berturut-turut Professor Noerhadi mengupas hasil penelitian beliau mengenai Y.A. Atisa, dan tema pembahasan pada hari terakhir ini adalah : Makna Relief dan Arca di Candi Agung Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Kaitannya dengan Y.A. Atisa.

Dalam waktu yang sangat terbatas, ketiga arkeolog terkemuka yang menjadi pembicara dalam kegiatan kali ini berhasil membagikan pengetahuan yang sangat berharga dan bermanfaat dalam hal arkeologi yang berkaitan erat dengan perkembangan agama Buddha di Nusantara, yang memengaruhi agama Buddha di Nepal, Tibet, serta Tiongkok. Usai membawakan materi arkeologi, Profesor Noerhadi mengutarakan kepada pihak penyelenggara dan True Buddha Foundation bahwa rangkaian Dialog Nilai Sejarah ini sangat berarti bagi arkeologi di Indonesia, karena dapat meningkatkan dialog dalam berbagai aspek pengetahuan arkeologi, sehingga ilmu pengetahuan arkeologi dan hasil penelitian arkeolog dapat terus lestari.

Kegiatan kali ini, selain dihadiri oleh siswa Zhenfo Zong dari berbagai kota dan desa di Indonesia, dihadiri pula oleh para mahasiswa Universitas Gadjah Mada jurusan Arkeologi yang hadir untuk menyimak hasil penelitian yang sangat berharga dari para arkeolog senior.

Usai sesi Dialog Nilai Sejarah, terlebih dahulu ketua True Buddha Foundation, Acarya Gao Chengzu (高程祖上師) menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap tamu agung dan hadirin, dilanjutkan dengan memperkenalkan berbagai level rohaniwan, tempat ibadah, dan yayasan sosial Zhenfo Zong di seluruh dunia. Selain itu, Acarya juga berjanji kepada profesor yang merupakan aset bangsa, bahwa kelak akan kembali menyelenggarakan Dialog Nilai Sejarah, dan menjadikannya sebagai kegiatan tetap bagi Zhenfo Zong.

Acara dilanjutkan oleh Acarya Lian-fei (蓮飛上師) yang memperkenalkan tempat ibadah dan yayasan sosial Zhenfo Zong di Indonesia, serta visi dan misi Zhenfo Zong Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Di penghujung acara Dialog Nilai Sejarah, perwakilan True Buddha Foundation bersama perwakilan Lotus Light Charity Society Indonesia, Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia, dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan, secara simbolis menyerahkan bantuan senilai Rp. 500,000,000,- kepada Ibu Siti Hartati Murdaya selaku ketua umum WALUBI, sebagai bantuan bagi upaya pertolongan dan pembangunan kembali di wilayah bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala.

Berikutnya, panitia menyerahkan cendera mata berupa lukisan karya Dharmaraja Liansheng kepada para tamu agung. Di akhir acara, para peserta berharap supaya Dialog Nilai Sejarah mendatang segera diselenggarakan kembali, supaya semua dapat semakin memahami Buddhadharma dan meningkatkan kebijaksanaan melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.

Selain itu, semua juga menantikan kedatangan Dharmaraja Liansheng di Indonesia pada tanggal 8 Desember 2018, untuk memimpin Upacara Agung Atisa Dipamkara di Indonesia Convention Exhibition ( ICE ) Tangerang, BSD, serta pembabaran Dharma ke tujuh Vihara Vajragarbha di berbagai wilayah di Indonesia, memancarkan cahaya Dharma menerangi dan memberikan kebaikan bagi para insan di Nusantara.

Pada malam hari tanggal 28 Oktober, semua kembali Berdharmayatra ke Mandala Agung Borobudur untuk berpartisipasi dalam Upacara Agung Homa Sahasrabhuja Sahasranetra Avalokitesvara Bodhisattva yang dipimpin oleh Acarya Lian-seng (蓮僧上師), demi melimpahkan jasa bagi bangsa dan negara Indonesia, serta mendoakan korban bencana di pulau Lombok, dan Sulawesi Tengah, yang tepat pada satu bulan yang lalu (28 September 2018) dilanda bencana gempa bumi dan tsunami ( Palu dan Donggala ), supaya korban jiwa dapat terlahir di alam suci, dan korban luka dapat segera pulih, serta pembangunan kembali dapat berjalan lancar dan sempurna.

Usai upacara homa, dalam Dharmadesananya, Acarya Lian-seng kembali mengingatkan semua mengenai makna sejati dari ‘Mohon Buddha Menetap di Dunia’ yang telah disampaikan oleh Acarya Lian-he (蓮訶上師) pada tanggal 27 Oktober, yaitu jangan menjadikan ‘Mohon Buddha Menetap di Dunia’ sebagai sebuah slogan kosong belaka, melainkan amalkanlah tekad ‘Mohon Buddha Menetap di Dunia’, yaitu dengan cara terus meningkatkan kualitas batin masing-masing, dengan demikian barulah selaras dengan nidana Buddha Guru menetap di dunia.

‘Mohon Buddha Menetap di Dunia’ bukanlah sebuah ketergantungan, ketergantungan pada adhisthana Mahaguru, namun diri sendiri terus berbuat karma buruk ; Ketergantungan pada adhisthana Mahaguru, namun diri sendiri tidak mau memupuk kebajikan. Berharap adhisthana Mahaguru dapat mengikis kerisauan batin, namun diri sendiri enggan untuk memahami dari mana asal kerisauan batin. Jangan sampai keliru dalam memahami makna dari ‘Mohon Buddha Menetap di Dunia’.

Acarya Lian-seng juga mengingatkan semua akan apa yang disampaikan oleh Acarya Lian-yue (蓮悅上師) pada tanggal 27 Oktober, yaitu terus memuliakan Mulacarya, supaya kita semua tahu bagaimana mewujudkan rasa syukur atas kebajikan dari Mulacarya. Hanya mereka yang benar-benar memahami budi jasa Guru, barulah bisa benar-benar bersyukur. Asalkan kita dapat senantiasa mengenang Mulacarya, berarti kita telah mengenang jasa kebajikan Buddha, Dharma, dan Sangha.

Saat ini, di berbagai belahan dunia terjadi banyak bencana, Sang Buddha telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara terbebas dari ilusi dan rasa takut, di antaranya, ada tiga metode, yaitu mengenang Buddha, mengenang Dharma, dan mengenang Sangha. Sebagai siswa Tantra, kita memiliki berkah teragung, yaitu Mulacarya merupakan perpaduan kualitas kebajikan Buddha, Dharma, dan Sangha. Oleh karena itu, asalkan batin kita senantiasa mengenang Mulacarya, maka kita dapat menghargai ajaran yang ditransmisikan oleh Mahaguru, dan menerima bimbingan dari Mulacarya. Acarya Lian-yue berharap supaya kita semua menghargai dan menjaga silsilah Zhenfo Zong sebagai wujud rasa syukur atas jasa kebajikan Mulacarya ; Sesungguhnya ini semua merupakan kebaikan bagi kita semua, supaya diri sendiri dapat membebaskan diri dari rasa takut, kerisauan batin, dan ilusi.

Acarya Lian-seng memohon adhisthana Mulacarya, memohon supaya Sahasrabhuja Sahasranetra Avalokitesvara dan para Buddha Bodhisattva di Mandala Agung Borobudur memancarkan cahaya terang mengadhisthana dan melindungi Indonesia, supaya bangsa dan negara Indonesia damai sejahtera, makmur sentosa. Semoga semua insan di Indonesia memiliki pengendalian diri dan tekun dalam praktik Dharma.

Acara dilanjutkan dengan pradaksina mengelilingi Candi Agung Borobudur sambil melantunkan Mantra Peredam Bencana dengan dipandu oleh para Acarya. Semua melakukan meditasi jalan sambil memegang pelita teratai sebagai lambang cahaya Dharma di hati menerangi semesta.

Tibalah saatnya acara penutupan, Acarya Lian-yue mengajak semua untuk melakukan refleksi diri, kemudian memanggil segenap Bodhisattva relawan tampil ke depan menerima aplaus dari para peserta, serta berterima kasih atas sumbangsih dari para Bodhisattva relawan. Terima kasih pula atas dukungan para Acarya, biksu dan biksuni, serta semua jajaran rohaniwan dan peserta yang datang dari dalam dan luar negeri. Di penghujung acara penutupan, semua bersama memanjatkan syukur dan sembah puja kepada Mulacarya dan Buddha Bodhisattva, sembari tangan memegang pelita teratai, dan bersama menyanyikan “You Raise Me Up”. Dengan demikian, serangkaian kegiatan ‘Tapak Tilas Sewu Tahun demi Prathana’ telah manggala dan sempurna.

◎ Sumber TBSN :
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=38&csid=8&id=4654

千年尋根 請佛住世:行菩提

【TBS報導】

「千年尋根 請佛住世:行菩提」活動,2018年10月28日,上午於印尼日惹The Alana飯店會議廳,繼續舉行第二天的「歷史與學術交流座談會」。由蓮飛上師帶領吟誦做為開場,邀請宗委會上師,包括高程祖上師、蓮悅上師、蓮訶上師、蓮僧上師、蓮太上師、蓮東上師等為會場外所展出的多尊千年古蹟佛像,進行開光儀式,這些佛像是七世紀從中爪哇出土的文化遺產,是非常不思議的佛像。會中並做祈福儀式,祈請根本上師佛光注照、諸佛菩薩放光加持,是日活動及護摩法會一切吉祥,也祈願蘇拉威西罹難的亡者蒙佛光加持,離苦得樂,往生淨土;倖存者也能盡速重建家園。

是日座談會共有三位主講者,由印尼旅遊局前局長,婆羅浮圖專家考古學家 哈利.悟恩多羅.特拉查教授,以「千年尋根阿底峽:一步一腳印」首先主講。第二位主講者是Gadjah Mada大學,考古學系教授 Niken Wirasanti女士,為在座與會眾等,帶來「三塔一體:門督(Candi Mendut)、巴翁(Candi Pawon)和婆羅浮圖(Candi Borobudur)」的主題演說。第三位主講者,是印尼考古學界國寶 努爾哈提‧嘛格薩利榮譽教授。教授連續兩天為到場參與的大眾主講,與阿底峽尊者相關的考古研究成果,本日所講主題是「婆羅浮屠佛塔上雕刻的意義」。

本次與會的大眾,除了有本宗真佛弟子們,還有印尼當地佛教界人士,更有來自印尼Gadjah Mada大學考古學系的莘莘學子們,盛情參與,前來汲取寶貴的考古研究成果。由於與會民眾的盛情,可容納千人的會議廳,座無虛席;而會場外所展出的多尊古蹟佛像前,也擠滿了一睹千年風采的民眾。

三名主講教授皆全力以赴,在有限的時間內盡力將想傳遞的知識,傾囊相授。努爾哈提教授也在演講的最後也向主辦單位及宗委會表示,這系列的講座活動對印尼考古來說意義非凡,能夠促進各方考古知識與資訊的交流,而各方考古學家的研究與心力能夠流傳下去。

講座結束後,由世界宗委會會長高程祖上師首先向講者、貴賓及大眾表達謝意,並向所有的民眾介紹真佛宗,及分布在全世界的弘法中心及慈善組織。也同時允諾國寶教授,此系列歷史考古及文化交流講座,將會在未來持續舉辦,成為常態性的交流座談會。

最後,由印尼密教總協會蓮飛上師做總結,向大眾闡述真佛宗在印尼的弘法中心及慈善組織,以及於未來五年內,真佛宗在印尼的弘法計畫。

在所有致詞結束後,世界宗務委員會及印尼真佛宗密教總會、印尼真佛宗密教總協會,共同致贈5億元印尼盾給印尼佛教總會(WALUBI),用以協助印尼蘇拉威西海嘯重災區巴路(Palo)的賑災與重建,由總會長鄒麗英女士代表接受贈與。同時,主辦單位也將多幅蓮生活佛所創作之墨寶畫作,致贈予蒞臨活動的嘉賓們。場面歡愉溫馨,與會大眾無不希望下次的講座活動能早日舉行,讓大眾能再以多種不同角度來接近佛法、深入智慧,也期待聖尊蓮生活佛於12月佛駕印尼,主持12月8日於印尼雅加達地區舉行的阿底峽尊者大法會,並蒞臨印尼各地多處道場,以佛光加持這個千島之國。

10月28日下午,與會大眾再次前往婆羅浮屠會場,參加由蓮僧上師主壇之「千手千眼觀世音菩薩護摩大法會」,為印尼國家祈福並為近日(9月28日)蘇拉威西島(Sulawesi)暨龍目地震海嘯的災民祈福超度。並由真佛宗上師團帶領與會大眾持誦大救難咒並繞塔、點燈為印尼國家祈福。

蓮僧上師呼應27日蓮訶上師的開示教導:不應把「請佛住世」淪為一句空有的口號,請佛住世的真義,是要以實際行動去做。唯有不斷的自我提升,才符合聖尊住世的因緣。而不是變成一種依賴:依賴師尊的加持,但自己又不斷的造業;依賴師尊的加持,但自己又不修種種的功德;依賴師尊的加持,希望能消除自己種種的煩惱,但自己又不願意去知道自己煩惱的因由是從何而來。這就是錯誤的錯解「請佛住世」的意義。

上師並提到蓮悅上師不斷的在頌讚根本上師的功德,讓眾生知道如何去感恩根本上師的功德。唯有真正知恩的,才能夠感恩。只要能夠時時謹記根本傳承上師,就等於時時在憶念佛的功德、法的功德,和僧寶的功德。

目前全世界有許多天災人禍,佛陀的開示中,有教導如何從恐懼顛倒的事件中解脫,其中的三種方法,就是念佛、念法、念僧。身為密教弟子,有一個最大的福份:根本上師就是佛法僧的總和。所以只要心中時時憶念根本上師,就能時時得到根本上師的護佑與救度,就能與師尊所傳的法產生共鳴,去接受根本上師種種的開導。所以蓮悅上師要我們去尊重並遵守真佛宗的傳承,去感恩根本上師的功德;其實是對大家有極大利益的,可以讓大家從種種的恐怖、顛倒、煩惱中解脫出來。

末了,蓮僧上師祈求根本傳承上師佛光注照,祈求千手千眼觀世音菩薩和千佛塔所有諸佛菩薩,同放光明,加持護佑印尼,國運昌隆、人民安居樂業,橫禍不侵。祈願印尼所有的有緣眾生,都能夠安住自己的身心,好好地在學佛的路上精進。

活動尾聲,在蓮悅上主持的感恩活動中圓滿落幕。蓮悅上師請本次活動的義工起立,接受眾人的掌聲,並感謝他們為此次活動全力的辛勞付出。也感謝與會上師、法師、弘法人員及來自世界各地的同門的熱情護持。最後與會大眾感恩頂禮根本傳承上師及諸佛菩薩的大加持,心手相連持蓮花燈,合唱歷久彌新歌曲「你鼓舞了我」You raise me up歌聲中圓滿落幕。

◎ 來源 :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4717

Leave a Reply