Sesungguhnya, ‘Atisa’ bukan lah sebuah nama, melainkan sebutan hormat dari orang-orang kepada Hyang Arya, artinya adalah ‘Kemenangan’ atau ‘Leluasa Tanpa Batas’. Nama dari Arya Atisa adalah : ‘Candragarbha’, Beliau adalah seorang pangeran dari Vikramapura India Timur, sejak kecil Beliau telah memiliki talenta dan kepandaian, meskipun Beliau adalah seorang pangeran, namun Beliau tidak melekat pada kesenangan duniawi, dan justru merasa kehidupan di istana ibarat berada di dalam penjara.

Di masa muda, Hyang Arya telah berziarah ke berbagai tempat suci di India, berguru kepada para bijak, bahkan belajar Buddhadharma di Mahavihara Nalanda, Beliau telah belajar kepada para Guru yang tak terhitung banyaknya, Beliau adalah seorang sadhaka agung, sekaligus cendekia Buddhis yang memiliki pengetahuan luas dan telah menguasai sutra, tantra, dan sastra. Beliau pernah mengalahkan banyak kaum tirthika dalam ajang perdebatan, berhasil mengembalikan banyak vihara yang telah dikuasai oleh kaum tirthika, dan memiliki status yang sangat mulia di India pada masa itu.

Meskipun Arya Atisa telah mempelajari ajaran sutra dan tantra, namun Beliau merasa kurang puas, Beliau memiliki keinginan besar untuk mengetahui metode yang dapat dengan cepat membawa pada pencapaian Kebuddhaan, dan sekaligus dapat memberikan manfaat besar bagi semua makhluk, oleh karena itu, pada usia yang ke-31, dengan keteguhan hati, Beliau melakukan perjalanan panjang dan berbahaya menuju ke Suvarnadvipa ( Jambi, Indonesia ) untuk berguru kepada Mahaguru Suvarnadvipa ( Dharmakirti ) yang termasyhur, demi mempelajari jalan menuju Kebuddhaan.

「阿底峽」,其實不是名字而是人們對尊者的尊稱,意為「殊勝」或「無極自在」。阿底峽尊者的本名「月藏」,是古印度東方「薩訶羅國」的王子,自小天資聰穎,雖然貴為王子,卻不貪戀世間欲樂,覺得生活在王宮如同牢獄。

年紀很輕的時候,尊者就遊歷印度各個道場,四處拜訪大德,甚至到佛教聖地那爛陀寺學習佛法,所拜的師父不計可數,是一位博通顯密經論的大學者、大修行者,曾辯倒無數的外道,收回多座被外道占據的佛教寺院,在印度的地位非常崇高。

尊者雖然遍學顯密教法,但卻不滿足,因為祂急於了解快速成佛、真實利益眾生的方法,於是在三十一歲時毅然決然地前往印尼占碑,打算拜當時頗負盛名的金洲大師為師,學習成佛之道。