Bagian 2 – Dialog Nilai Sejarah dan Upacara Agung di Candi Borobudur 印尼日惹:歷史學術交流與婆羅浮圖法會 (2)

By November 1, 2018News

中文在印尼文下

【TBS Liputan Acarya Lianhua Huijun- 蓮花慧君】

Tanggal 28 Oktober 2018 merupakan hari kedua Dialog Nilai Sejarah yang diselenggarakan oleh Zhenfo Zong di Yogyakarta. Sebelum acara dimulai, ketua umum True Buddha Foundation beserta ketujuh direktur bersama mengabhiseka arca bersejarah yang dipamerkan di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, upacara sederhana ini merepresentasikan arus Dharma silsilah yang mengalir melalui para Acarya yang mewakili Mahaguru untuk membabarkan Dharma, supaya cahaya Dharma menerangi Indonesia.

Panitia mengundang arkeolog kehormatan dari Universitas Indonesia : Prof. Dr. Noerhadi Magetsari ; Dr. Hari Untoro Dradjat, tenaga ahli Menteri Pariwisata pada Badan Otorita Borobudur ; beserta Dr. Niken Wirasanti, M.Si. , dosen Universitas Gadjah Mada, ketiga arkeolog terkemuka ini berbagi pengetahuan berharga mengenai sejarah Y.A. Atisa dengan Nusantara, beserta candi-candi Buddhis di Indonesia.

Dr. Hari Untoro Dradjat mengungkapkan bahwa Y.A. Atisa adalah seorang tokoh reformis agama yang lahir di Benggala ( Bangladesh ), menjadi biksu dengan gelar : Dipamkara Srijnana, kemudian pergi ke Suvarnadvipa, Nusantara, dan di Tibet merintis sekte Kadam.

Apa perbedaan Beliau dengan Je Tsongkhapa ?

Wujud Y.A. Atisa menurut penggambaran di Tiongkok, Tibet, dan Nepal berbeda. Rupang Y.A. Atisa juga berbeda dengan Je Tsongkhapa. Kita dapat mengenalinya melalui mudra yang dibentuk, dan benda-benda yang menjadi atribut.

Y.A. Atisa lahir di Benggala yang wilayahnya saat itu sangat luas, dekat dengan sungai dan laut. Pada usia 11 tahun Beliau belajar Dharma di Nalanda, kemudian ke Suvarnadvipa untuk belajar kepada Serlingpa Dharmakirti. Beliau pernah menjadi seorang kepala vihara, namun kemudian memenuhi undangan raja Tibet untuk membabarkan Dharma di Tibet. Dalam karya tulis Je Tsongkhapa, nampak bahwa Beliau mengetahui reformasi yang dilakukan oleh Y.A. Atisa yang tidak mendiskriminasi antara Sutrayana dan Tantrayana, Y.A. Atisa lebih mengutamakan sepenuh hati membabarkan Buddhadharma.

Di Indonesia sendiri terdapat 160 lokasi candi Buddha, di Sumatera ada 30 lokasi. Dahulu tempat yang dikunjungi oleh Y.A. Atisa bukan hanya Suvarnadvipa, namun diyakini masih banyak tempat yang lain.

Kedua bapak arkeolog Indonesia ini pernah berjumpa dengan Mahaguru di Taiwan, berdialog mengenai beberapa makna luhur dan mendalam dari Candi Agung Borobudur, kemudian melakukan penelitian lebih lanjut, mendapati bahwa makna Dharma dari Candi Agung Borobudur yang disampaikan oleh Mahaguru adalah benar adanya.

Berikutnya, Dr. Niken Wirasanti, M.Si. , dosen Universitas Gadjah Mada, menyampaikan mengenai penelitian beliau akan aspek lingkungan Candi Agung Borobudur : Sesungguhnya Borobudur dikelilingi oleh pegunungan dan di antaranya adalah gunung berapi. Di sekitarnya juga terdapat sungai dan danau. Di dekatnya terdapat Candi Pawon dan Candi Mendut, yang ternyata satu garis dengan Candi Borobudur, menjadi tiga serangkai yang saling berhubungan.

Usai santap siang, Prof. Dr. Noerhadi Magetsari menyampaikan hasil penelitian beliau : Ajaran Buddhadharma banyak yang disampaikan melalui relief dan pahatan, telebih adalah Candi Borobudur.

Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Borobudur saling berhubungan, seperti yang disampaikan oleh Avatamsaka Sutra mengenai keberadaan Buddha Trikala, maka dalam ketiga candi ini terdapat Buddha masa lampau dan Buddha masa sekarang.

Dari ajaran luhur yang disampaikan melalui relief Candi Borobudur, kita dapat mengetahui bahwa demi belajar mengenali Buddhata, segala hal yang lain dapat dilepaskan. Oleh karena itu, Borobudur adalah sebuah mandala yang sarat akan ajaran mulia.

Sesungguhnya dari Candi Pawon kita juga dapat melihat ajaran Sutrayana dan Tantrayana, demikian pula dari candi yang lain, ini bermakna bahwa umat Buddha dapat memilih metode bhavana yang sesuai bagi diri sendiri.

Candi Agung Borobudur terdiri dari : Kaki candi, badan candi, dan puncak candi. Di tingkat pertama terdapat relief Jataka dan Lalitavistara. Di tingkat kedua terdapat relief Gandavyuha. Candi Borobudur merupakan sebuah mandala agung yang dapat kita masuki. Pada zaman dahulu, Y.A. Atisa juga melakukan pradaksina kepada stupa, yaitu sebuah metode meditasi yang dilakukan sambil berjalan. Hanya dengan melepaskan kemelekatan dan membersihkan tubuh, ucapan, dan pikiran, barulah kita bisa memasuki mandala agung Borobudur.

Profesor juga memperkenalkan relief dalam Candi Borobudur, di sana terdapat kisah saat Sakyamuni Buddha belum menitis ke dunia saha, saat masih berada di surga, saat itu Sang Bodhisattva dapat menentukan kelahiran-Nya sendiri. Dalam riwayat Sakyamuni Buddha disebutkan bahwa demi mencapai keberhasilan, Beliau sempat menekuni penyiksaan diri, demikianlah Beliau mesti melalui proses tersebut, kemudian melanjutkan bhavana mencapai Kebuddhaan.

Sebelum mencapai Kebuddhaan, Beliau tekun membersihkan karma tubuh, ucapan, dan pikiran, melepaskan keduniawian, melepaskan takhta kerajaan, menjalani penyiksaan diri, kemudian berbhavana mencapai keberhasilan.

Dalam Gandavyuha, Sudhanakumara sendiri berbhavana dengan melalui beberapa tahapan. Dalam relief ada pula tahapan saat Sudhanakumara belajar Dharma kepada Manjusri Bodhisattva, Samantabhadra Bodhisattva, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Maitreya Bodhisattva. Proses belajar Y.A. Atisa kepada Guru Agung Dharmakirti juga melalui tahapan-tahapan. Agama Buddha sendiri tidak akan terkena pengaruh luar yang menyebabkan kehilangan keistimewaannya yang semula.

Dalam sesi tanya-jawab, Dr. Hari Untoro Dradjat menyampaikan, Y.A. Atisa menekuni Sadhana Arya Tara, di pulau Jawa terdapat Candi Kalasan yang merupakan sebuah candi yang dipersembahkan bagi pemujaan Dewi Tara. Di seluruh Indonesia terdapat 160 situs candi, sesungguhnya, meskipun agama Buddha masuk dari luar, akan tetapi, Suvarnadvipa ( Nusantara ) pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha, bahkan di Sumatera Barat terdapat situs yang menandakan keberadaan Heruka.

Mengenai Dewi Tara sebagai Dewi istimewa dalam agama Buddha di Tibet, Prof. Dr. Noerhadi Magetsari mengemukakan, kemanapun perginya, Y.A. Atisa senantiasa membawa serta rupang Dewi Tara, di beberapa lokasi di Indonesia juga ditemukan candi Dewi Tara, dari sini dapat diketahui bahwa Y.A. Atisa membawa ajaran mengenai Dewi Tara dari Nusantara ke Tibet.

Ada sebuah pertanyaan, apakah pembangunan candi saat itu menggunakan prinsip fengshui ? Dr. Niken Wirasanti, M.Si. mengatakan, saat itu nenek moyang kita menggunakan beberapa kitab yang memuat syarat-syarat pendirian sebuah candi, salah satu contohnya adalah : Candi mesti didirikan di tanah Brahmana. Dari situs bersejarah yang telah ditemukan saat ini, kita dapat mengetahui kebijaksanaan luar biasa dari nenek moyang Nusantara di zaman dahulu.

Saat dialog juga disampaikan sebuah saran supaya para arkeolog melakukan penelitian yang manakah versi yang benar dari Gandavyuha.

Prof. Dr. Noerhadi Magetsari menyampaikan, tokoh yang barusan mengungkapkan pertanyaan tersebut adalah salah satu kalyanamitra beliau. Kitab yang paling awal sudah tidak ada, sedangkan Jatakamala yang dipahatkan di Borobudur mungkin juga saat itu sudah ada beberapa versi. Akan tetapi, saat itu, Acarya yang merancang Candi Borobudur sudah merupakan seorang Acarya agung, oleh karena itu menurut profesor, versi yang digunakan di Candi Agung Borobudur sudah merupakan versi yang terbaik.

Dr. Hari Untoro Dradjat menjawab : Arkeolog akan terus melakukan penelitian terkait. Candi Borobudur merupakan perpustakaan yang terbaik. Kali ini, berkat True Buddha Foundation, ajaran agama dan kajian ilmiah dapat berpadu dalam satu kegiatan yang sungguh bermakna, beliau menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan kali ini sungguh baik. Terlebih adalah di lokasi acara juga dipamerkan beberapa arca bersejarah, sungguh istimewa, sungguh sebuah kesempatan yang sangat langka.

Pandita Dharmaduta Hendrik selaku moderator acara menyampaikan : Kawan-kawan dari luar negeri mesti berkunjung ke Indonesia, sebab di Indonesia terdapat peninggalan bersejarah agama Buddha yang paling berharga !

Berikutnya adalah kata sambutan dari Acarya Lianhua Chengzu (蓮花程祖上師) selaku ketua TBF : Dalam acara Dialog Nilai Sejarah selama 2 hari ini, beliau merasa sungguh terharu. Mahaguru akan datang ke Indonesia untuk memutar Dharmacakra Y.A. Atisa, dan hari ini setelah mendengar penjelasan dari ketiga arkeolog tekemuka, sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga. Acarya menyampaikan bahwa TBF bersedia menyanggupi saran dari arkeolog, yaitu akan melanjutkan penyelenggaraan Dialog Nilai Sejarah.

Acarya juga memuji Ibu Siti Hartati Murdaya, ketua umum WALUBI, yang selama bertahun-tahun telah berupaya membabarkan Buddhadharma, dan mengembangkan agama Buddha di Indonesia, Acarya mengajak untuk bersama membabarkan Buddhadharma di masa mendatang.

Acarya Chengzu juga memperkenalkan struktur organisasi Zhenfo Zong, mulai dari True Buddha Foundation, Vihara Vajragarbha, cetiya, perkumpulan puja bakti, sampai jajaran rohaniwan yang telah tersebar di 25 negara. Selain itu, Acarya juga memperkenalkan yayasan sosial dalam Zhenfo Zong, yaitu : Sheng-yen Lu Foundation dan Lotus Light Charity Society.

Dalam kata sambutannya, Acarya Lianfei (蓮飛上師) juga menyampaikan hal-hal menarik sehubungan dengan keistimewaan Candi Agung Borobudur, selain itu juga mengisahkan bahwa dahulu Mahaguru pernah datang ke Indonesia dan berkunjung ke Candi Agung Borobudur. Di dalam banyak karya tulis Mahaguru, ada banyak dibahas mengenai Y.A. Atisa, Acarya juga membacakan salah satu karya tulis Mahaguru mengenai Y.A. Atisa, yaitu : ‘Atisa Abdi Guru Selama 12 Tahun’

Dalam acara penutupan Dialog Nilai Sejarah, True Buddha Foundation bersama para Acarya menghadiahkan karya lukis Mahaguru kepada para tamu agung, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan dana sebesar Rp. 500,000,000,- melalui ketua umum WALUBI, Ibu Siti Hartati Murdaya, yang merupakan bantuan dari Lotus Light Charity Society Indonesia, Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan, dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia kepada para korban bencana di Sulawesi Tengah dan Lombok. Serangkaian acara Dialog Nilai Sejarah pun usai dengan sempurna dalam hangatnya rasa persaudaraan.

Pada malam hari tanggal 28 Oktober 2018, semua berkumpul di salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Candi Agung Borobudur untuk mengikuti Upacara Agung Homa Sahasrabhujanetra Avalokitesvara Bodhisattva yang dipimpin oleh Acarya Lianseng (蓮僧上師).

Usai homa, terlebih dahulu Acarya Lianseng menyampaikan rasa duka yang mendalam dari Mahaguru Dharmaraja Liansheng atas bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah dan bencana gempa di Lombok, Mahaguru juga sangat peduli dengan persoalan kesehatan dan pembangunan kembali di daerah bencana. Mahaguru bahkan berwelas asih memberikan petunjuk untuk mengerahkan daya upaya Zhenfo Zong, di Indonesia, dan Taiwan, untuk menyelenggarakan Upacara Homa Sahasrabhujanetra Avalokitesvara demi melimpahkan jasa bagi para korban bencana. Mahaguru sendiri juga melakukan pelimpahan jasa dalam upacara homa di Rainbow Temple. Acarya mendoakan semoga berkat adhisthana dari Sahasrabhujanetra Avalokitesvara yang memiliki welas asih agung, para arwah dapat terbebas dari rasa takut, memperoleh penjemputan, terlahir di alam suci Buddha, dan para korban luka-luka dapat segera pulih, pembangunan kembali juga dapat berjalan dengan lancar dan sempurna, supaya semua memperoleh ketenteraman.

Acarya Lianseng menyampaikan bahwa ini adalah pertama kalinya beliau memimpin upacara di Indonesia. Beliau berterima kasih kepada CEO Upacara Atisa 2018, Acarya Lianyue (蓮悅上師) yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi upacarika bagi upacara agung yang diselenggarakan di tempat suci Mandala Agung Borobudur ini. Meskipun ini merupakan kehormatan bagi diri sendiri, akan tetapi, yang paling utama dan menggembirakan adalah dapat bersama-sama para Acarya, biksu, biksuni dan umat sekalian untuk melimpahkan jasa bagi Indonesia, dan mohon Buddha menetap di dunia.

Acarya Lianseng menyampaikan, Acarya Lianyue pernah memberitahu beliau bahwa Candi Agung Borobudur hanya digunakan untuk upacara Waisak dan Asadha setahun sekali, kali ini berkat adhisthana dari Mulacarya, kita dapat memperoleh kesempatan yang langka dan istimewa ini.

Di akhir Dharmadesana Acarya Lianseng mendoakan semoga Indonesia aman sejahtera, makmur sentosa, dan semoga semua makhluk tekun dalam bhavana dan mencapai keberhasilan.

Acara akhir diisi dengan pradaksina di tengah alunan musik Mantra Peredam Bencana, para Acarya berada di barisan paling depan, memandu segenap rohaniwan, para tamu agung, dan para peserta, untuk bersama melakukan meditasi berjalan, melantunkan Mantra Peredam Bencana, berpradaksina kepada Mandala Agung Borobudur.

Sekembalinya di hadapan altar utama, semua berlutut melantunkan Gatha Mohon Buddha Menetap di Dunia, memohon Buddha menetap di hati, mengenang kebajikan Mulacarya, dan berharap supaya Mulacarya senantiasa sehat dan terus memutar Dharmacakra di dunia saha demi kebahagiaan semua makhluk.

Melalui acara penutupan yang sangat istimewa yang dibawakan oleh Acarya Lianyue, serangkaian kegiatan Dialog Nilai Sejarah dan upacara di Candi Agung Borobudur telah usai dengan sempurna dan manggala.

◎ Sumber TBSN :
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=38&csid=8&id=4650

◎ Sumber TBINA :

印尼日惹:歷史學術交流與婆羅浮圖法會 (2)

【#TBS蓮花慧君報導】

2018年10月28日,宗派在日惹市歷史學術交流繼續第二天的交流。

之前,宗委會處長與上師們共7位應邀為現場婆羅浮圖歷史性的珍貴佛像金身開光,象徵根本傳承法流,藉著本宗上師的代師傳法,也發光於當地。

接著,主辦單位邀請印尼大學考古學家:努爾哈提.嘛格薩利榮譽教授 Prof.Dr. Noerhadi Magetsari,印尼觀光局婆羅浮屠官方專家.考古學家Dr.Hari Untoro Dradjat.M.A.:哈利.悟嗯多羅.特拉查博士,與考古教授尼肯女士,三位於台上作學術研討。

哈利.悟嗯多羅.特拉查博士表示:阿底峽祖師是宗教改革人士,創立了噶當派,祂出生於孟加拉國,之後到古印尼占卑的金洲島。
燃燈吉祥智就是阿底峽尊者。到底祂與宗喀巴祖師有什麼不一樣?
阿底峽尊者其形像,在中國、西藏、尼泊爾的版本不同。祂與宗喀巴的相亦不同。可以通過其手印、身旁物品,知道其不同之處。阿底峽尊者昔日在孟加拉國出生,當時的地區很大,有靠海、河。祂11年在印度那蘭陀學法,之後祂向金洲大師學習。祂曾經擔任佛廟主席,但是之後又應邀入藏弘法。宗喀巴大師的寫作,知道阿底峽尊者的改革,祂沒有分別顯教與密教,只是一心將佛法的推廣弘揚。
在印尼有160個佛塔的點,在蘇門答臘有30多個點。阿底峽尊者,昔日不只在金洲島,相信也到了其他地方。

印尼此二位考古學家昔日前來朝聖師尊,請教關於婆羅浮圖曼羅的神秘要件,後來回去再進一步研究之後,發現師尊當時指示是正確無誤的。

接著印尼考古教授尼肯女士告訴大家關於自己對於婆羅浮圖所在地環境的研究:其實在群火山圍繞之中,建立了婆羅浮圖。其周圍有湖。鄰近佛塔(Pawon與Men Dut)是一貫的,彼此之間都有關聯。

午餐之後,印尼大學考古學家:努爾哈提.嘛格薩利榮譽教授 Prof.Dr. Noerhadi Magetsari接著又應邀發表研究報告:佛教透過浮雕展現出來,尤其是婆羅浮圖。佛塔Pawon與Men Dut,跟婆羅浮圖是三塔一體的。
根據華嚴經的說明,有三世佛。所以此三塔之中,有供奉阿底峽尊者的前世佛與現世。
從而得知,我們當學習深入佛性,其他都可以放下。所以,婆羅浮圖是我們尊貴的曼荼羅。如何看出此特點呢?婆羅浮圖周邊有佛塔,從Pawon佛塔可以看出阿底峽尊者與諸尊。
通過恭敬與供養儀式的角度來看,是準備的階段。其實我們從Pawon佛塔就可以看出顯教與密教,亦可以在其他塔也展現其中,而為佛教徒提供選擇適合自己的修行。
婆羅浮圖有:塔層、塔身與塔頂。它是我們可以走進去的曼荼羅。
經行:入三摩地以行走的方式來進行。
在婆羅浮圖,其第一層是「本生經」、「普曜經」。第二層是「 善財童子五十三參」。
只有身口意放下,才有資格進入婆羅浮圖的曼陀羅。

他介紹婆羅浮圖的浮雕:釋迦摩尼佛還沒有到娑婆世界的時候,在淨土之際, 還在選擇將來自己如何出生。記得釋迦牟尼佛選擇苦行來成就。 這表示祂必須經歷如此的修行才能夠成佛。
還沒有成佛之前,祂把自己的身口意清淨 ,放下了紅塵、放下了王位, 經歷了苦行而成就。
善財童子分幾種層次來修持。浮雕之中刻有祂向文殊師利菩薩學習的景象。像阿底峽尊者向大師學習,也經歷過像這樣的過程。 佛教不會受外來的影響而消耗的自己原有的特色。

而在提問時間之中,哈利.悟嗯多羅.特拉查博士表示:阿底峽尊者修持度母,而在爪哇島出現度母廟。這其中亦有跡可循。全印尼有160個佛塔點,其實,雖然佛教是外傳進來,但是,金洲島卻是佛教的停留中心,像南蘇門答臘島就有嚇魯嘎。
關於印尼佛教的特點,爾哈提.嘛格薩利榮譽教授 Prof.Dr. Noerhadi Magetsari提到:阿底峽尊者走到哪裡都帶著度母像,所以,印尼一些島有度母廟。

印尼考古教授尼肯女士表示:當時建佛塔是否也需要看風水?經典有提到一些關於建塔的條件。所以,建塔應該選擇婆羅門的地區。我們從古蹟之中,可以知道當時的人建塔,是非常有智慧的。

現場也有聽眾建議考古教授們,應該再去鑑定:哪個才是正確的「 善財童子五十三參」版本。

而爾哈提.嘛格薩利榮譽教授 Prof.Dr. Noerhadi Magetsari回答:剛剛這位提問者是他的善知識。最原始的經典已經不在了。而婆羅浮圖上刻的「本生經」,也可能當時亦有很多版本。但是,當時,設計婆羅浮圖的上師,已經是最佳了,所以,教授認為婆羅浮圖上面的版本已經是最好的。

哈利.悟嗯多羅.特拉查博士回答:考古學家會繼續作上述的研究。而婆羅浮圖已經是最好的圖書館,透過真佛宗的宗委會,能夠把宗教與學術研究結合,這個活動很有意義,他覺得宗委會這次舉辦的活動非常好。尤其在本處周邊展覽婆羅浮圖的古蹟金身,真是非常棒,殊勝難得。

主持人也強調:外國朋友們一定要來印尼,因為印尼有著最珍貴的文化遺產!

而接下來,由宗委會長蓮花程祖上師致詞: 這兩天討論會,他本身真的是感動連連。師尊將要來印尼轉動阿底峽尊者的法輪。而今天聽到3位考古學家的發表,實在是太珍貴了。願意循剛剛的建議,將來繼續再舉辦研討會。
上師也讚賞全國佛教徒代表大會主席鄒麗英女士, 多年來致力於推動佛教的推廣, 歡迎將來更一起來推廣佛法。
上師也向眾貴賓介紹真佛宗的組織盛況。 從宗委會、雷藏寺、分堂、 各層級弘法人員, 充滿全球20多個國家。也介紹宗派的慈善組織。

蓮飛上師也應邀致詞,提到婆羅浮圖殊勝的歷史定位,也向貴賓們介紹聖尊蓮生活佛昔日蒞臨印尼的盛況。聖尊的多篇文章之中,提到了阿底峽祖師,上師並且與大?分享師尊文章「阿底峽事師十二年」。

研討會閉幕時,宗委會長與上師們贈送貴賓師尊畫作墨寶,現場也頒發結業證書給學員。大會並移交善款于印尼盾500,000,000印尼佛教徒大會總主席鄒麗英女士,此為真佛宗印尼華光功德會、真佛宗印尼密教總會及真佛宗印尼密教總協會共同捐贈給印尼蘇拉威西及龍目之災區人民重建家園的善款。大會在祥和溫馨的氣氛中圓滿結束。

2018年10月28晚上,眾等齊聚世界七大奇景之一的「婆羅浮圖」佛塔前,由蓮僧上師主壇千手千眼觀音護摩。

護摩後,蓮僧上師首先代表根本傳承上師,向中蘇拉維西及龍目島地震海嘯罹難受災者,致上最深的哀悼與慰問,聖尊也非常關心當地災區居民的健康與重建的工作等等。師尊並且慈悲指示,以宗派的力量,分別在印尼、台灣等地,啟建千手千眼觀音護摩來迴向給受災眾生與眾靈,聖尊自己也於彩虹雷藏寺護摩法會時為之迴向,期望在千手千眼大悲觀音慈悲攝受下,眾亡靈能遠離恐懼,得佛接引往生佛國,眾災區倖存者能夠早日重建家園,安居樂業。

自己也是第一次來印尼主持法會。感謝執行長蓮悅上師給予機會讓自己能夠在此聖地來主持法會。雖然是個人的榮幸,但是,最高興能夠在這裡與眾上師、法師同門們一起迴向。

蓮僧上師憶起蓮悅上師曾經提到:婆羅浮圖原本一年只開辦一次,慶祝衛塞節。然而,這次由於根本傳承的加持,竟然特別為我們特別開放,真是殊勝難得。

最終,蓮僧上師也祝福印尼國運昌隆,所有眾生精進成就。

接著,在殊勝的「大救難咒」音樂之中,上師與各級弘法人員、與會大眾和貴賓們,一起虔誠一步一腳印地繞著婆羅浮圖佛塔,人人萬分殷重,觀想持咒繞佛。

回到壇城後,眾等請佛住世、請佛住心,人人向壇城磕頭,憶念師尊,願聖尊常住世間。

在殊勝的閉幕式之後,是次的歷史性學術交流與婆羅浮圖法會圓滿結束。

◎ 來源 :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4712

Leave a Reply