Sisi Lain dan Keistimewaan Y.A. Atisa yang Belum Anda Ketahui – 您不知道的阿底峽尊者

By September 20, 2018Atisa

中文在印尼文下

Seorang Pangeran yang Tidak Mengejar Kemewahan
Hanya Mencintai Buddhadharma nan Mulia

Sesungguhnya, ‘Atisa’ bukan lah sebuah nama, melainkan sebutan hormat dari orang-orang kepada Yang Arya, artinya adalah ‘Kemenangan’ atau ‘Leluasa Tanpa Batas’.

Nama dari Arya Atisa adalah : ‘Candragarbha’, Beliau adalah seorang pangeran dari Vikramapura India Timur, sejak kecil Beliau telah memiliki talenta dan kepandaian, meskipun Beliau adalah seorang pangeran, namun Beliau tidak melekat pada kesenangan duniawi, dan justru merasa kehidupan di istana ibarat berada di dalam penjara.

Di masa muda, Yang Arya telah berziarah ke berbagai tempat suci di India, berguru kepada para bijak, bahkan belajar Buddhadharma di Mahavihara Nalanda, Beliau telah belajar kepada para Guru yang tak terhitung banyaknya, Beliau adalah seorang sadhaka agung, sekaligus cendekia Buddhis yang memiliki pengetahuan luas dan telah menguasai sutra, Tantra, dan sastra. Beliau pernah mengalahkan banyak kaum tirthika ( sesat ) dalam ajang perdebatan, berhasil mengembalikan banyak vihara yang telah dikuasai oleh kaum tirthika, dan memiliki status yang sangat mulia di India pada masa itu.

Meskipun Y.A. Atisa telah mempelajari ajaran sutra dan Tantra, namun Beliau merasa kurang puas, Beliau memiliki keinginan besar untuk mengetahui metode yang dapat dengan cepat membawa pada pencapaian Kebuddhaan, dan sekaligus dapat memberikan manfaat besar bagi semua makhluk, oleh karena itu, pada usia yang ke-31, dengan keteguhan hati, Beliau melakukan perjalanan panjang dan berbahaya menuju ke Suvarnadvipa ( Jambi, Indonesia ) untuk berguru kepada Mahaguru di Suvarnadvipa : Serlingpa Dharmakirti yang termasyhur, demi mempelajari jalan menuju Kebuddhaan.

Jalinan Murni Antara Guru dan Siswa
Transmisi Ajaran Bodhicitta Anuttara

Pada tahun 1012 Masehi, Y.A Atisa bersama lebih dari seratus orang yang menyertai Beliau dari India, berkunjung ke Tanah Suci Suvarnadvipa, tempat kediaman Serlingpa Dharmakirti, yang saat ini adalah Jambi Indonesia. Namun Y.A. Atisa tidak langsung berguru, berdasarkan aturan dalam Tantra, keduanya terlebih dahulu saling mengamati selama 12 tahun, dan setelah berhasil memahami kapasitas masing-masing, barulah kemudian dengan sebuah upacara yang khidmat dan berbagai sarana puja, Y.A. Atisa secara resmi berguru kepada Serlingpa Dharmakirti, semenjak saat itu keduanya menjadi Guru dan siswa yang saling menghargai.

Dengan sepenuh hati, Y.A. Atisa mengabdi kepada Sang Guru : Serlingpa Dharmakirti selama 12 tahun. Serlingpa Dharmakirti mentransmisikan semua Buddhadharma yang sangat berharga kepada Y.A. Atisa, di antaranya, yang paling penting dan sangat istimewa adalah ajaran Bodhicitta, sebuah metode yang paling cepat untuk mencapai Kebuddhaan. Sakyamuni Buddha pernah berpesan kepada Y.A. Atisa : “Hanya dengan berlindung kepada maîtri-karuna Bodhicitta, barulah dapat menjadi Buddha.”

Dalam lubuk hati Y.A Atisa yang telah mencapai keberhasilan berkat bimbingan Serlingpa Dharmakirti, muncul rasa terima kasih dan penghormatan yang tak terhingga kepada Sang Guru, di mana pun berada, tiap kali mendengar orang mengucapkan nama Serlingpa Dharmakirti, Beliau pasti beranjali di atas kepala, memuliakan Guru sendiri dengan menggunakan gatha empat baris, barulah kemudian menyebutkan Nama Serlingpa Dharmakirti.

Setiap tahun, Y.A. Atisa pasti mengenang parinirvana para Guru Sarana Beliau, akan tetapi terhadap parinirvana Serlingpa Dharmakirti, Beliau memperingatinya setiap bulan sekali, bahkan ke mana pun Beliau pergi, senantiasa membawa serta sarira Serlingpa Dharmakirti. Sebab Beliau pernah mengatakan : “Saya memiliki banyak Guru Silsilah, sebagian besar merupakan seorang Mahasiddha, dalam hal pencapaian bhavana, semua tiada berbeda. Akan tetapi, berkat budi jasa dari Mahaguru Serlingpa Dharmakirti, Aku dapat memperoleh ajaran Bodhicitta yang sangat istimewa, demikianlah perbedaannya ada pada budi jasa !”

Sesungguhnya, Serlingpa Dharmakirti dan Y.A. Atisa adalah Guru dan siswa semenjak banyak kehidupan, sesungguhnya asal-usul Serlingpa Dharmakirti adalah Raja Pundarika, sedangkan dalam kehidupan saat ini, Serlingpa Dharmakirti menitis sebagai Bhiksu Liaoming, dan Dharmaraja Liansheng adalah kedatangan kembali dari Y.A. Atisa dan Raja Pundarika, melanjutkan jalinan jodoh Guru dan siswa, keduanya sangat erat tak terpisahkan.

Pengaruh Y.A. Atisa kepada Buddhisme Tibet Sangat Luas dan Mendalam

Y.A. Atisa menjadi pewaris agung dari Buddhadharma, kemudian kembali ke India, pada saat pembabaran Dharma Beliau telah sangat meluas di India, Raja Tibet telah berulang kali mengirimkan utusan, bahkan secara langsung datang untuk memohon Y.A. Atisa berkenan masuk ke Tibet untuk membabarkan Dharma, berkat keteguhan hati dan ketulusan Sang Raja dalam memohon Dharma, akhirnya pada saat Y.A. Atisa berusia 59 tahun, walau kepergiannya ke Tibet dapat memperpendek usia-Nya selama 10 tahun, Y.A. Atisa tetap memutuskan masuk ke Tibet untuk membabarkan Buddhadharma demi memberikan manfaat bagi lebih banyak lagi insan.

Setelah Y.A. Atisa masuk ke Tibet, Beliau melakukan perombakan besar terhadap penyimpangan dalam kalangan agama Buddha saat itu, membabarkan hukum karma, menekankan pentingnya sepenuh hati bersarana kepada Tri-ratna, membangkitkan naiskramyacitta ( tekad untuk terbebas dari samsara ) dan Bodhicitta, serta menunjukkan semangat tunggal dalam tahapan bhavana Sutrayana dan Tantra, hal ini sekaligus mengatasi persoalan ketidakharmonisan antara Buddhisme Sutrayana dan Tantra saat itu. Berkat Beliau, agama Buddha di Tibet berhasil keluar dari masa kekacauan, dan kembali pada jalur yang benar, dan sekte Kadam pun berdiri.

Y.A. Atisa membabarkan Buddhadharma di Tibet selama 12 tahun, memempersatukan pandangan dari setiap sekte di Tibet, baik sekte yang ada saat itu, maupun sekte yang baru, semua memperoleh pengaruh dari Kadampa. Y.A. Atisa memasuki parinirvana pada pada usia 73 tahun di Tibet, mewariskan semua ajaran berharga kepada Tibet, pengaruhnya terhadap agama Buddha di Tibet sangatlah luas dan mendalam, di dalam setiap sel-sel agama Buddha Tibet terkandung ajaran luhur Y.A. Atisa.

Sekitar 200 sampai 300 tahun setelah parinirvana Y.A. Atisa, agama Buddha di Tibet kembali memasuki masa kegelapan, saat itu muncul seorang tokoh pembaru : Je Tsongkhapa yang mereformasi penyimpangan dalam agama Buddha, membangun tahapan bhavana yang ketat, menekankan sila, mengutamakan etika, mempertahankan ajaran dari Y.A. Atisa, dan mendirikan Gelugpa yang disebut juga sebagai : Kadam Baru. Je Tsongkhapa menyalakan kembali daya hidup agama Buddha di Tibet, sehingga sampai saat ini agama Buddha di Tibet masih terus lestari. Sesungguhnya, Je Tsongkhapa merupakan titisan Y.A. Atisa, kewelasan agung Mahasiddha kembali menyinari dan membimbing para insan di dunia.

Meneladani Mahasiddha

Di abad ke-21 ini, Dharmaraja Liansheng menghadirkan kembali keluhuran Y.A. Atisa, kedua Mahasiddha ini memiliki beberapa kesamaan, antara lain :

Keduanya memahami Sutrayana dan Tantra, bahkan Dharmaraja Liansheng juga menguasai ajaran Dao.

Keduanya memiliki banyak silsilah, termasuk di antaranya adalah silsilah angkasa. Sejak usia muda, Y.A. Atisa telah berkelana untuk belajar Dharma kepada para Mahasiddha, bersarana kepada beberapa Guru, dan memiliki banyak silsilah. Dharmaraja Liansheng sendiri memiliki silsilah dari empat sekte utama Tantra Tibet, Sutrayana, bahkan silsilah Dao.

Keduanya menjaga sila dengan ketat. ‘Sila’ merupakan fondasi dari semua Dharma kebajikan, semasa hidup Y.A. Atisa tidak pernah melanggar sila berat, namun di saat lengah dan melanggar sila kecil dalam Tantra, maka pada hari itu juga Beliau langsung melakukan pertobatan yang sesuai dengan tata Dharma. Dharmaraja Liansheng sendiri juga menjaga sila dengan sangat ketat, bahkan begitu muncul sedikit gejolak dalam batin, beliau langsung melakukan introspeksi, dan bertobat kepada para Buddha dan Bodhisattva.

Keduanya mengutamakan penghormatan kepada Guru. Terhadap semua Guru, dan terutama rasa syukur dan penghormatan Y.A. Atisa terhadap Serlingpa Dharmakirti, sungguh sangat mengharukan kita semua. Sedangkan Dharmaraja Liansheng sendiri, memiliki keutamaan dalam penghormatan kepada Guru, senantiasa menjunjung tinggi Mulacarya, tiap kali sebelum Dharmadesana, beliau selalu menyatakan sembah puja kepada keempat Mulacarya, kemudian baru Berdharmadesana.

Keduanya memiliki Bodhicitta dan kewelasan yang tertinggi. Demi menyeberangkan para insan di Tibet, Y.A. Atisa rela mengorbankan 10 tahun usia-Nya. Demi membimbing para insan di Tibet, Beliau telah merelakan segalanya, dan mewariskan semua esensi ajaran terluhur. Dharmaraja Liansheng sendiri telah membangkitkan ikrar agung untuk menyeberangkan insan walau tubuh hancur berkeping-keping, rela merelakan segalanya demi menyeberangkan para insan, menganugerahkan semua ajaran berharga kepada para insan.

Ini semua merupakan sikap seorang Mahasiddha, tidak goyah oleh guncangan ruang dan waktu, kita sebagai siswa Buddha, mesti belajar dengan sepenuh hati, dari lubuk hati yang terdalam belajar Buddha, meneladani Buddha, hingga akhirnya menjadi Buddha.

您不知道的阿底峽尊者
不愛榮華富貴 只愛尊貴佛法的王子

「阿底峽」,其實不是名字而是人們對尊者的尊稱,意為「殊勝」或「無極自在」。阿底峽尊者的本名「月藏」,是古印度東方「薩訶羅國」的王子,自小天資聰穎,雖然貴為王子,卻不貪戀世間欲樂,覺得生活在王宮如同牢獄。

年紀很輕的時候,尊者就遊歷印度各個道場,四處拜訪大德,甚至到佛教聖地那爛陀寺學習佛法,所拜的師父不計可數,是一位博通顯密經論的大學者、大修行者,曾辯倒無數的外道,收回多座被外道占據的佛教寺院,在印度的地位非常崇高。

尊者雖然遍學顯密教法,但卻不滿足,因為祂急於了解快速成佛、真實利益眾生的方法,於是在三十一歲時毅然決然地前往印尼占碑,打算拜當時頗負盛名的金洲大師為師,學習成佛之道。

深厚的師徒情誼 無上菩提心法的傳授

西元1012年,阿底峽尊者及隨行的一百多人,從印度來到金洲大師的駐錫之地印尼「占碑」,但阿底峽尊者並沒有立刻拜師,當時兩人按照密教規矩,互相觀察了十二個月未見面,了解彼此之間的能力可以相授,阿底峽尊者才以隆重的儀式、豐盛的供養,正式拜金洲大師為師,從此兩人成為惺惺相惜的師徒。

阿底峽尊者用心承事金洲大師十二年,金洲大師將珍貴的佛法盡數傳授給尊者,其中最重要且稀有的就是「菩提心法」,這是最速捷成佛之法,因為釋迦牟尼佛曾向尊者說道:「依止了慈悲菩提心,才能夠成佛。」

學成後的阿底峽尊者,對金洲大師懷有無限的感恩及敬重,不管在何處,只要聽到有人提到金洲大師,祂必合掌於自己頭頂,以四句頌讚揚自己的恩師,隨後才稱金洲大師之名。尊者每年都會紀念所有皈依師父的圓寂,但對於金洲大師,祂則是每月祭一次,還隨身配戴金洲大師的舍利。因為祂曾經說過:「我的傳承師父非常多,多數是大成就者,修行道行是毫無差別的。但是我因為金洲大師的恩澤才能夠獲得非常稀有的菩提心,這恩德是有差別的啊!」

事實上金洲大師與阿底峽尊者是多世的師徒,金洲大師的來歷其實就是大白蓮花王,而這世的 蓮生活佛不但是阿底峽尊者的再來人,更是大白蓮花童子轉世,金洲大師也在這一世轉世成為了鳴和尚,與 師尊再續師徒之緣,兩人根本密不可分。

阿底峽尊者對藏傳佛教的影響至廣至深

阿底峽尊者成為佛法的大傳承者,之後回到印度,在印度弘揚佛法達到全盛之時,西藏國王曾多次派人,甚至親自前往迎請阿底峽尊者入藏弘法,由於其迎請之心堅定虔誠,阿底峽尊者最後在五十九歲時,不顧減短壽命十年的因緣,進入西藏,廣傳佛法。

阿底峽尊者進入西藏後,針對當時的佛教弊病大加整頓,包括宣說因果,強調一心皈依三寶、具有出離心與菩提心的重要性,更指示修行次第和顯密教義相一致的精神,以杜絕當時顯密之間水火不融等嚴重的問題。西藏地區的佛教因此得以撥亂反正,步上正軌,「噶當派」也順勢建立了起來。

阿底峽尊者在西藏廣傳佛法十二年,引導西藏佛教各派的見解趨向一致,當時和後來興起的教派,沒有不受噶當派所影響。尊者於七十三歲時於西藏示現圓寂,將自己最珍貴的法教全數留給西藏,對西藏佛教之影響至為深廣,西藏佛教的每一個「細胞」中,都有尊者法教涵藏於其中。

阿底峽尊者入滅的二、三百年之後,西藏佛教又逐漸趨於混亂,此時出現了一股清流,宗喀巴大師改革了當時的弊病,建立了嚴密的修行次第,強調戒律,重視倫理,維持著阿底峽的教法,建立起「格魯派」,也稱「新噶當派」,為西藏佛教注入了新的活力,至今不衰。而宗喀巴大師就是阿底峽尊者的再來人,大成就者度眾的大慈悲心再一次展示於世人面前。

大成就者的風範

二十一世紀的 蓮生活佛也是阿底峽尊者的再來人,兩位大成就者有許多相似之處,諸如:

兩人都博通顯密,蓮生活佛甚至連道法都精通。

兩人都擁有眾多的傳承,包含虛空傳承。阿底峽尊者從年輕時就四處尋訪大成就者學法,皈依許多師父,傳承甚多;而 蓮生活佛則是擁有藏傳佛教四大教派的傳承,及顯教、道教的傳承。

兩人都持戒甚嚴。「戒」為一切善法的基礎,阿底峽尊者大項的戒律絕不違犯,但有時若不慎犯了密教裡細微的戒律,當天就會立刻依儀軌懺悔;聖尊 蓮生活佛守戒也非常嚴實,僅是一點點情緒上的波動就即刻反省,向佛菩薩懺悔。

兩人都敬師第一。阿底峽對所有上師,尤其是金洲大師的感恩及敬意,至誠地令人感動;而蓮生活佛更是出了名的敬師,時刻頂戴自己的根本上師,說法開示前,必定頂禮四位根本上師後才進行開示。

兩個都具有無上的慈悲菩提心。阿底峽尊者為了到西藏度化更多水深火熱的眾生,折掉十年壽命也在所不惜,為了幫助西藏地區的眾生,掏心掏肺,留下祂所有精華的法教;而聖尊 蓮生活佛則發下大願,粉身碎骨度眾生,甘願將自己的五臟六腑鋪在地上讓眾生踩過,將祂所有珍貴的法教毫無保留的交給眾生。

這些都是大成就者的風範,不受任何時空所撼動,身為佛子的我們,理應盡心學習,盡心讓自身由內而外的學佛、像佛,最終成佛。

Leave a Reply